Friday 3 February 2012

RENUNGAN: SURAT UNTUK IBU



Ibu,
Aku merenung di tengah dunia yang sedang menghadang, membuka tiap kelopak mataku akan hidup. Telah 17 tahun aku lewati, telah 17 tahun aku pandangi, hatiku terisi tetes demi tetes pemahaman akan hidup ini, akan aliran waktu yang terus melaju ini, akan dunia yang penuh dengan tanda tanya iini.
Ibu,
Begitu banyak, begitu bertumpuk hal yang telah aku pelajari akan sistem agung ini, sistem dimana aku terjebak di dalamnya, sebuah sistem tanpa batas, sebuah sistem yang tidak mungkin aku lalui sendirian. Aku jadi merasa sebuah titik pasir tak berarti di tengah padang pasir dunia yang luas, sendirian.
Tapi Ibu,
Tahun-tahun pertama aku melihat dunia ini, engkau datang, engkau ada, engkau hadir, walaupun aku bahkan tidak menyadarinya. Tanpa aku minta, tanpa aku ketahui, engkau menjadi sebuah pohon rindang yang melindungiku dari panas, engkau menjadi payung yang melindungiku dari hujan, engkau menjadi gua yang melindungiku dari berbagai ancaman.
Ibu,
Aku menyadari di salah satu sudut gelap pikiranku, bahkan di atas semua perlindunganmu terhadapku pada tahun-tahun awal hidupku, ternyata ada memori 9 bulan yang hilang di pikiranku, suatu memori-memori awal hidupku, di dunia pra-dunia, di rahimmu.Aku telah lupa semuanya, saat engkau merasa mual karena kehadiranku di perutmu, saat kau dengan rutin mengecek kesehatan, menjaga tiap makanan yang kau makan, demi keselamatankubunda  yang tidur tenang di rahimmu. Aku mulai mengingatnya lagi ibu, saat kau tidak bisa tidur tiap malam karena gerakan-gerakanku mengganggu perutmu, saat kau berbagi nafas, berbagi darah, berbagi makanan, berbagi jiwa untuk satu-satunya yang engkau sayangi, satu-satunya yang engkau cintai.
Ibu,
Aku tersentak di salah satu bagian hatiku, aku mulai sangat menyadari ibu, atas nyawa dan hidup yang telah engkau bagi bersamaku. Selama 9 bulan engkau hidup hanya dengan setengah nyawa, hidup dengan beban dua kali lipat, hidup dengan penuh perasaan, suka cita dan khawatir. Di akhir perjuanganmu itu, cobaan terberat menghadangmu, menentukan 2 pilihan padamu, hidup atau mati.
Ibu,
Aku ingat semuanya ibu, aku ingat, aku ingat, aku ingat saat kau bernafas susah payah untuk mengeluarkanku ke dunia dengan selamat, aku ingat saat kau kehilangan separuh nyawamu untuk tiap helai nyawaku, aku ingat saat kau berpeluh, berteriak penuh kesakitan, mengeluarkan sebagian besar darahmu untukku, untuk hidupku, dan aku ingat ibu, aku ingat saat kau menangis, menangis penuh suka cita dan bahagia saat melihatku menangis, menangis tangisan pertamaku, menangis karena aku telah terpisah dengan tempat yang begitu hangat dan nyaman di rahimmu, menuju dunia yang dingin, tanpa pelindung.
Ibu,
Bahkan setelah itu, perjuangan dan usahamu tidak berakhir, dan tidak akan pernah berakhir, engkau mendidikku, engkau membinaku, engkau merawatku, engkau melindungiku, hingga saat ini, hingga kapanpun. Aku menjadi heran ibu, kenapa, kenapa aku yang malah menambah beban hidupmu, aku yang membuatmu harus menyisihkan sebagian uang untuk keperluanku, aku yang menghabiskan sebagian besar waktumu tiap hari, tetap saja engkau rawat, tetap saja engkau sayangi sepenuh hati, tetap saja engkau melakukannya tanpa lelah. Engkau benar-benar sosok yang membuatku heran bu, engkau wanita tiada kenal lelah dan pamrih.
Ibu,
Aku melihat sekitarku, aku pandangi sekelilingku, begitu banyak fenomena yang menusuk hatiku. Ada yang dibentak, diabaikan, dilawan oleh anaknya sendiri, dan di atas semua itu bahkan ada anak yang berani membunuh ibunya sendiri. Melihat tempat lain, aku lihat lagi sosok ibu, menghembuskan nafas terakhir saat melahirkan anaknya, meninggalkan anaknya sendirian di dunia, tanpa ibu.
Ibu,
Kini aku mengerti, kini aku paham akan hal yang engkau rasakan di hatimu. Engkau merupakan sosok yang telah memberikan sebagian nyawanya untukku, menyisihkan sebagian harta dan waktunya hanya untukku, dan rela melepas hidupnya, hanya untukku, hanya untuk melihatku tumbuh sehat, hanya untuk melihatku tersenyum bahagia.
Ibu,
Telah 17 tahun aku berada dalam payungmu, aku mempelajari banyak hal, aku memahami sistem yang akan aku hadapi. Aku tidak mungkin selamanya berteduh dibawahmu, aku tidak mungkin selamanya hidup dengan bebanmu.
Ibu,
Dalam hening sepi renunganku, aku mendapatkan satu hal, satu hal yang akan terus aku pegang selama hidupku, satu hal yang akan melekat selalu di tiap selaput hatiku. Ibu, aku tidak ingin melihatmu bersedih. Ibu, aku akan lakukan apapun untuk membuatmu tersenyum. Aku berjanji ibu, aku tidak akan membuatmu kecewa, aku tidak akan membuat niat, harapan, dan usahamu sia-sia.
Satu hal yang aku ingin engkau tahu ibu, Aku Sayang Padamu
Your lovely daughter

0 comments:

Post a Comment